Wednesday, June 27, 2018

PASSIVE VOICE

Kalimat Aktif merupakan kalimat dimana subjeknya berperan sebagai perilaku dari sebuah tindakan (Siapa + melakukan + apa). Dalam Bahasa Indonesia biasa menggunakan rumus awalan dan akhiran “Me/me-kan/ter/ber/memper-kan, dsb” (memakan, membacakan, bermain, dsb). Letak subjek dalam kalimat aktif berada di bagian depan kalimat
Contoh Kalimat Aktif :
Reza(S) drank(P) a glass tea(O)
Reza telah meminum segelas teh.

Rumus Active Voice 
S + V (kata kerja yang disesuaikan dengan tenses-nya) + O 


Kalimat Pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan. Jenis kalimat ini dikatakan kalimat pasif karena subjeknya pasif tidak melakukan pekerjaan tetapi justru dikenai suatu pekerjaan.
Contoh dan Penjelasan Kalimat Pasif
Tikus itu dimakan kucing (The mouse was eaten by the cat)
Kalimat di atas bersubjek “tikus”. Di dalam kalimat tersebut, “tikus” dikatakan pasif karena sedang dimakan kucing, sedangkan yang aktif adalah kucingnya. Jadi, karena subjek pasif, kalimat di atas disebut kalimat pasif.

Rumus Passive Voice 
S + to be + V3 + (by + O )

Berikut ini akan dijelaskan lebih lengkap mengenai bentuk kalimat serta rumus kalimat passive voice, yaitu :

1. Present Tense
S+V1
Contoh :
Aktif : Randy writes a letter
Pasif : A letter is written by Randy

2. Past Tense
S+V2
Contoh :
Aktif : Randy wrote a letter
Pasif : A letter was written by Randy

3. Present Continous/Present Progressive
S+am/is/are+V-ing
Contoh :
Aktif : Randy is writing a letter
Pasif : A letter is being written by Randy

4. Past Continous
S+was/were+V-ing
Contoh :
Aktif : Randy was writing a letter
Pasif : A letter was being written by Randy

5.  Present Perfect
S+was/were+V-ing
Contoh :
Aktif : Randy has written a letter
Pasif : A letter has been written by Randy

6. Past Perfect
S+had+V3
Contoh :
Aktif : Randy had written a letter
Pasif : A letter had been written by Randy

7. Future
S+will+V1
Contoh :

Monday, April 9, 2018

Affirmative Agreement, Negative Agreement, dan Verbs as Complement

1. Affirmative Agreement

DEFINISI : Affirmative agreement merupakan (kesesuaian) yang digunakan ketika seseorang melakukan sesuatu dan menambahkan bahwa ada orang lain yang melakukan sesuatu yang sama.

kata so, too, dan also mempunyai arti yang sama yaitu juga, pula, pun. Tapi dalam penggunaannya terdapat perbedaan, so digunakan sebelum tobe(s) dan auxilliaries(kata bantu).
Example:
1. My wife will talk to him and so will I
2. My wife has talked about it, and so have I
3. My wife talked about it, and so did I

Sedangkan too dan also digunakan setelah tobe(s) dan auxilliaries.
Example:
1. My wife will talk to him and I will too
2. My wife has talked about it, and I have too
3. My wife talked about it, and I did also

1. When a form of the verb be is used in the main clause, the same tense must be used in the following simple statement.

affirmative statement (verb be) + and + [subject + verb (be) + too] OR [so + verb (be) + subject]

She is smart and you are too.
She is smart and so are you.

2. When a compound verb (auxiliary + verb) is used in the main clause, the auxiliary verb is used in the simple statement. The subject and verb of the simple statement must also agree.

affirmative statement (compound verb) + and + [subject + auxiliary verb + too] OR [so + auxiliary verb + subject]

She should finish her homework and you should too.
She should finish her homework and so should you.

3.  When any other verb (except be) appears without an auxiliary in the main clause, the auxiliary do, does, or did is used in the simple statement. Again, the subject and verb must agree and the same tense must be used.

affirmative statement (single verb except be) + and + [subject + do, does, or did + too] OR [so + do, does, or did + subject]

I walk to school and my friends do too.
I walk to school and so do my friends.

2. Negative Agreement

“Either” dan “neither” memiliki fungsi yang sama seperti kata “too” dan “so” pada klausa kedua (second clause) dalam kalimat positif (affirmative sentence/ agreement). Kata “Either”dan “neither” ini digunakan untuk mengindikasikan kalimat negative (negative sentence/ agreement). Aturan yang sama juga berlaku untuk penggunaan “to be”, “auxiliary verb” (kata kerja bantu), dan “verb” (kata kerja).

Untuk neither digunakan sebelum auxilliary verb, for example:

1. My roommate won't go, and neither will I
2. My roommate hasn't gone, and neither have I
3. My roommate doesn't go, and neither do I

Dan untuk either digunakan setelah auxilliary verb dan kata "not", for example:

1. My roommate won't go, and I won't(will not) either
2. My roommate hasn't gone, and I haven't either
3. My roommate doesn't go, and I don't either

Hal lain yang harus diperhatikan yaitu untuk pemakaian tobe dan auxilliaries setelah kata "..and.." harus sesuai dengan tobe dan auxilliaries yang digunakan di awal kalimat, seperti :

My wife is talking about it, and so am I
My wife has talked about it, and I have too
My roommate won't go, and neither will I

“Either” and “neither” function in simple statements much like “so” and “too” in affirmative sentences. However, either and neither are used to indicate negative agreement. The same rules for auxiliaries, be and do, does, or did apply.

Negative statement + and + [ S + negative auxiliary or be + either]
Negative statement + and + [ neither + positive auxiliary or be + S ]

For example,
A: I'm not hungry.
B: Neither am I. / I'm not either.

3. Verbs as Complement

Verb as Complement adalah kata kerja pelengkap , pelengkap kata kerja adalah kata atau frase yang melengkapi kata dari subyek,obyek, atau kat kerja .Seperti, misalnya saya akan berusaha (1) untuk bekerja keras (2), kawan saya memutuskan (1) untuk menikah (2) bulan depan, adikku berhenti (1)menangis (2) ketika ibu datang, saya tak tahan (1)untuk jatuh cinta (2) denganmu, dll.

A. Ada Kata Kerja yang SELALU diikuti oleh Invinitive (to +Verb), yaitu:

a. Agree (setuju)
b. Attemp (berusaha/mencoba)
c. Claim (menuntut/menyatakan)
d. Decide (memutuskan)
f. Desire (menginginkan)
g. Fail (gagal)
h. Forget (lupa/melupakan)
i. Hesitate (merasa ragu/bimbang)
j. Hope (berharap)
l. Intend (bermaksud)
k. Learn (belajar)
l. Need (membutuhkan/memerlukan)
m. Plan (berencana)
n. Prepare (mempersiapkan)
o. Pretend (berpura-pura)
p. Refuse (menolak)
q. Seem (kelihatan)
r. Tend (cenderung)
s. Want (ingin)
t. Wish (berharap)

CONTOH:
- His father agrees to send him a new car (ayahnya setuju untuk mengirimnya mobil baru).

- He learned to play basketball, when he was a little.

1. Ada Kata Kerja yang SELALU diikuti oleh Gerund (Verb-ING) :
a. Admit (menerima/mengijinkan/mengakui)
b. Avoid (menghindari)
c. Appreciate (menghargai)
4. Can’t help (tak tahan)
5. Consider (mempertimbangkan)
6. Deny (mengingkari)
7. Finish (menyelesaikan)
8. Mind (keberatan)
9. Practice (berlatih)
10. Postpone (menunda)
11. Quit (meninggalkan)
12. Recall (mengingat/memanggil kembali)
13. Resist (melawan/menentang/menahan)
14. Resume (memulai lagi/meneruskan/menempati lagi)
15. Risk (mempertaruhkan/mengambil risiko)
16. Suggest (menyarankan/mengusulkan)

CONTOH:
• I am considering buying a new car, because it’s a good investment
• he finished telephoning when I came
• He admitted not cheating on the exam (negative form)

Wednesday, March 29, 2017

Proses Pembuatan Anime



Anime adalah animasi khas jepang.Kata anime tampil dalam bentuk tulisan dalam tiga karakter katakana a, ni, me yang merupakan bahasa serapan dari bahasa Inggris "Animation" dan diucapkan sebagai "Anime-shon".Beberapa Anime diangkat dari sebuah manga yang selanjutnya manga tersebut dibuat dalam bentuk animasi. Berikut merupakan proses pembuatan anime :
planing pembuatan anime

1. Planning
Sebelum membuat Anime perlu dilakukan sebuah perencanaan yang matang agar menghasilkan sebuah anime yang berkualitas. Semua unsur penting yang mendukung anime dibahas dengan melibatkan berbagai pihak mulai dari animator, pembuat skenario, dsb.


2. Skenario
Setelah perencanaan matang dan disetujui semua pihak terutama (jika cerita tersebut berupa adaptasi) dari pihak pengarang cerita asli, maka mulai proses pembuatan dan pengembangan cerita. Detil tokoh yang akan berperanpun dijelaskan disini.
3. Storyboard
Storyboard adalah proses penuangan dari cerita menjadi gambar. Storyboard bentuk visualisasi dari cerita. Disini akan dibahas mulai dari adegan tokoh, angle kamera, timing scene, tata cahaya, dan keterangan lainnya dibuat.

4. Drawing
Tahap ini dibagi lagi menjadi tiga. Pembuatan lay out, gambar kunci, dan animasi in between.Dalam proses lay out, orang yang bertanggung jawab membuatnya akan banyak memikirkan bagaimana alur gerakan karakter dalam setiap adegan atau detail latar dan masih banyak hal yang lain terkait proses perfilman. Setelah itu, mulai dibuat gambar-gambar kunci. Orang yang bertanggung jawab dalam tahap ini harus menentukan pada titik mana saja pergerakan karakter terjadi.
Proses ini kemudian dilanjutkan dengan gambar in-between yang mengisi gambar kunci tersebut. Hasilnya, gambar itu sepenuhnya bergerak.

5. Painting
Dulu, proses pewarnaan menggunakan cat dan kuas di atas sel-sel yang di siapkan. Tapi sekarang karena gambar di scan dalam komputer, proses pewarnaan bisa dilakukan secara digital.

6. Filmisasi
Pada tahap ini adalah untuk menyatukan dan merekam seluruh gambar yang disiapkan. Pada tahap ini gambar-gambar diperhalus pergerakannya dan diberi visual efek jika diperlukan.

7. Finishing
Tahap terakhir sebelum animasi ditayangkan anime akan melalui proses penambahan audio dan pengisisan suara melalui seiyuu (dubber) masing-masing.

Sunday, January 8, 2017

The Role of Information and Communication Technology in Competitive Intelligence

The Role of Information and Communication Technology in Competitive Intelligence

Dirk Vriens
University of Nijmegen, The Netherlands

Part 8

Abstrak

         Bab ini membahas peran dari TIK untuk kegiatan kecerdasan yang kompetitif. Untuk tujuan ini, dimulai dengan pengenalan kecerdasan kompetitif. Selanjutnya, ini membahas kemungkinan penggunaan dari TIK untuk kegiatan kecerdasan. Dalam pembahasan ini diutamakan membahas
pembayaran untuk penggunaan internet, untuk tujuan umum Alat TIK, alat untuk TIK disesuaikan dengan satu atau lebih tahap kecerdasan, dan alat-alat kecerdasan bisnis (gudang data dan alat untuk mengambil dan menyajikan data di dalamnya). Akhirnya, bab ini menjelaskan bagaimana organisasi dapat memilih aplikasi TIK untuk mendukung kegiatan kecerdasan mereka.

Sifat yang Diperoleh dari Kecerdasan Kompetitif

       Beberapa ada yang kebingungan tentang perbedaan antara kecerdasan kompetitif dan istilah yang terkait erat atau berhubungan dengan kecerdasan kompetitif, misalnya, kecerdasan pesaing, pemasaran penelitian atau spionase perusahaan. Salah satu kebingungan yang ada adalah perbedaan antara kecerdasan kompetitif dan jenis lain dari kecerdasan. Banyak data tentang aspek lingkungan yang mungkin signifikansi strategis, misalnya, data pesaing, tentang perubahan teknologi, tentang pemerintahan, tentang pemasok, dll. Jika ada subjek dimana yang datanya dikumpulkan tidak ditentukan (jika ruang lingkup sangat luas), satu cenderung untuk berbicara tentang kecerdasan kompetitif. Dalam bab ini, kami juga akan mengacu untuk kecerdasan kompetitif dalam arti luas. Faktor umum dalam data tentang subjek ini adalah mereka semua yang bisa berisi informasi penting dan strategis. Jika, bagaimanapun, kecerdasan diproduksi dan proses tentang spesifik (lingkungan) subjek, penulis sering menggunakan istilah yang menunjukkan hal ini: misalnya, kecerdasan pesaing, kecerdasan teknologi, atau kecerdasan pemasaran. Beberapa penulis bahkan tampaknya menyamakan kecerdasan kompetitif dengan kecerdasan pesaing (misalnya, Fuld, 1995). Dari minat khusus adalah istilah "kecerdasan bisnis." Ini istilah sebelumnya yang digunakan untuk merujuk pada masalah yang sama seperti kecerdasan kompetitif (cf., Gilad & Gilad, 1988; Pawar & Sharda 1997 yang menggunakan kecerdasan bisnis berjangka bukan kecerdasan kompetitif). Namun, akhir-akhir ini, perangkat lunak industri mengambil alih istilah "kecerdasan bisnis" untuk merujuk kepada konstelasi tertentu dari alat TIK yang digunakan untuk pengambilan keputusan organisasi pada umumnya (cf., Cook & Cook, 2000;. Fuld et al, 2002). Kami akan mematuhi ini untuk pengembangan dan mengacu pada BI sebagai perangkat spesifik alat TIK.
    Dalam mendefinisikan CI, penulis (cf., Gilad & Gilad, 1988; Cook & Cook, 2000) juga menekankan perbedaan antara penelitian CI dan penelitian pemasaran. Perbedaan ini merupakan sebagian soal lingkup. Seperti Gilad dan Gilad (. 1988, p 8) mengatakan: "Meskipun informasi yang dihasilkan oleh departemen penelitian pemasaran adalah kecerdasan, itu hanya sebagian kecil dari total kecerdasan yang diperlukan untuk pengambilan keputusan. "Hannon, (1997, p. 411) menyatakan bahwa penelitian pemasaran berbeda karena "biasanya dilakukan dalam fungsi pemasaran dan, jelas, lebih terbatas di ruang lingkup dari proses kecerdasan kompetitif secara proses keseluruhan. "Gilad dan Gilad (1988) juga menekankan bahwa CI cenderung menjadi aktivitas yang berkelanjutan dari
penelitian pemasaran.
      Terakhir sebuah istilah terkait dengan spionase perusahaan. Meskipun salah satunya diperoleh dari kecerdasan dengan cara spionase perusahaan, perbedaannya adalah perusahaan yang spionase meliputi kegiatan pengumpulan yang biasanya dilihat sebagai ilegal dan / atau
tidak etis: seperti "menyelam pada tempat sampah," informasi mencuri atau akses ilegal ke intranet, untuk beberapa nama. CI hanya mempekerjakan kegiatan  resmi untuk menghasilkan kecerdasan (cf., Hannon, 1997; Gilad & Gilad, 1988; Kahaner, 1997; Cook & Cook,2000; Fleisher, 2001a).

Mendefinisikan CI: Sebuah Ringkasan
Dalam upaya kami untuk mendefinisikan CI, sekarang kita dapat membuat pernyataan berikut tentang CI:
  • Sebagai sebuah produk, CI adalah "informasi lingkungan yang relevan untuk tujuan strategis."
  • Sebagai sebuah proses, CI dapat dijelaskan dari siklus kecerdasan yang terdiri dari empat tahap: arah, pengumpulan, analisis dan diseminasi.
  • Proses CI bertujuan untuk mengirim CI sebagai produk untuk pengambilan keputusan strategis.
  • CI berbeda dari spionase perusahaan, kecerdasan bisnis dan jenis kecerdasan lain serta dari penelitian pemasaran.
         Dengan pemahaman ini konsep CI sekarang dapat kita lihat peranan TIK untuk CI di bagian berikutnya.


TIK UNTUK KECERDASAN KOMPETITIF

         Pada bagian ini, kita membahas alat TIK untuk CI, yaitu, alat TIK untuk mendukung
kegiatan dalam siklus intelijen. Untuk tujuan ini, pertama kali kita mencoba untuk memposisikan alat TIK untuk CI dalam klasifikasi tradisional dari aplikasi TIK. Selanjutnya, kita membahas empat kelas dari perangkat TIK untuk CI.
       Secara tradisional, aplikasi TIK untuk memanajemen organisasi yang diklasifikasikan bersama dua dimensi terkenal: jenis struktur organisasi tugas atau keputusan aplikasi yang seharusnya mendukung (dibagi dalam tugas atau keputusan terstruktur, semi-terstruktur dan tidak terstruktur) dan organisasi (manajemen) tingkat dimana tugas-tugas atau keputusan berada (biasanya tingkat manajemen operasional, taktis dan strategis) (lihat misalnya Laudon & Laudon, 2000). Biasanya, sistem pemrosesan transaksi (TPS) adalah sistem tingkat operasional yang mendukung tugas-tugas terstruktur; pengelolaan sistem informasi (MIS) mendukung taktis (tingkat menengah) manajemen dari meringkas dan melaporkan keluaran dari semua jenis TPS yang masih mendukung tugas terstruktur. Sistem pendukung keputusan (DSS) biasanya menambahkan alat analisis untuk MIS untuk melakukan "sebab analisis." Analisis ini dikatakan semi terstruktur. Sistem pendukung eksekutif (EIS) mengacu pada alat pendukung manajemen tingkat tinggi dalam tugas yang tidak terstruktur dari membuat strategi.

KESIMPULAN

     Untuk memilih dan menggunakan alat TIK yang tepat untuk mendukung proses CI, organisasi harus tahu (1) apa proses CI, (2) apa peran TIK (alat) dalam proses ini, dan (3) menilai peran TIK (tools) untuk proses CI sendiri. Dalam bab ini, kita membahas tiga aspek tersebut. Kita mendefinisikan CI baik sebagai produk dan sebagai proses. Kemudian kami membahas peran perangkat TIK dalam proses CI. Disini, kita disajikan empat jenis alat TIK yang relevan untuk mendukung (dan sewaktu-waktu bahkan menggantikan) kegiatan CI: Internet, aplikasi umu yang akan digunakan dalam kegiatan CI, aplikasi CI spesifik dan aplikasi kecerdasan bisnis. Pada bagian terakhir dari bab ini kita membahas tiga kelas dari criteria organisasi yang dapat digunakan dalam mengevaluasi dan memilih alat TIK untuk proses CI mereka.
    Meskipun definisi CI dan kriteria memilih perangkat TIK untuk CI tampaknya telah stabil, kemungkinan menggunakan TIK untuk peningkatan CI cepat. Beberapa tren yang mungkin diakui adalah:
  • Satu konvergensi aplikasi BI dan CI (misalnya, gudang data dan software terkait juga terikat dengan data eksternal dan kualitatif) (cf., Li,1999)
  • Menggunakan TIK untuk data kualitatif dapat meningkat (misalnya, Chen et al., 2002)
  • Menggunakan Internet untuk lebih dari sekedar kegiatan pengumpulan (misalnya, untuk kolaborasi dan penyebaran tujuan) (cf., Teo & Choo, 2001; Cunningham, 2001)
  • Peningkatan aplikasi Internet untuk koleksi (lebih efisien dan aplikasi koleksi efektif akan terus muncul)
  • Pelaksanaan aplikasi CI dapat dilihat sebagai suatu proses dimana proses CI dan infrastruktur dapat dianalisa ulang
  • Peningkatan aplikasi analisis (lih, Fuld et al., 2002)

        Meskipun semua kemungkinan dari TIK untuk CI, kami mengakhiri bab ini dengan berkomentar bahwa memproduksi kecerdasan masih tetap karya dari manusia yang merupakan satu-satunya "mesin" mampu menempatkan data dari aplikasi tepat pada strategis perspectif. Alat TIK, bagaimanapun, sangat berharga dalam mendukung tugas ini.

Thursday, November 3, 2016

INTELLIGENCE INFORMATION SYSTEM (SISTEM INFORMASI CERDAS)

Sistem informasi merupakan sekumpulan komponen pembentuk sistem yang mempunyai keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya yang bertujuan untuk menghasilkan suatu informasi dalam suatu bidang tertentu. Dalam sistem informasi terdapat kriteria antara lain, fleksibel, efektif dan efisien. Sistem informasi juga dibagi atas tiga aspek yaitu Komputer, Manajemen dan Bisnis.

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) merupakan suatu bidang sains computer yang ditujukan untuk menyempurnakan kinerja sistem instrumentasi elektronika. Peralatan atau sistem yang dibangun dapat melakukan kerja yang memerlukan kecerdasan seperti yang dilakukan oleh manusia. Beberapa bidang yang menggunakan kecerdasan buatan contohnya seperti Sistem Pakar, Sistem Pendukung Keputusan, Logika Fuzzy, Algoritma Genetika dan Neural Network.

Sedangkan Sistem Informasi Cerdas (Intelligence Information System) ialah kemampuan mesin atau sistem untuk beradaptasi dalam mencapai tujuan pada lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku sistem. Sebagai sistem yang mampu menirukan perilaku manusia, sistem mempunyai ciri khas yang menunjukkan kemampuan dalam hal :

  • Menyimpan Informasi 
  • Berkomunikasi dengan penggunanya
  • Beradaptasi dengan suatu keadaan baru
  • Menggunakan informasi yang dimiliki untuk melakukan suatu pekerjaan dan dapat menarik suatu kesimpulan

Tujuan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) yaitu :

  • Membuat mesin menjadi lebih pintar (tujuan utama)
  • Memahami apa itu kecerdasan (tujuan ilmiah)
  • Membuat mesin lebih bermanfaat (tujuan entrepreneurial)

Sistem Informasi Cerdas (Intelligence Information System) terbagi menjadi 3 aspek utama yaitu :

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)
Mempelajari kemampuan dari suatu mesin dan algoritma untuk diimplementasikan dalam kehidupan nyata berdasarkan pikiran manusia. Dalam sebuah algoritma AI terdapat dua persepsi terhadap otak manusia, pertama bagaimana cara berfikirnya dan kedua adalah seberapa besar pola pikir yang dihasilkan. Dari problema tersebut dapat diambil garis besar hubungan SIC/ IIS terhadap AI yaitu cara berfikir dan pola fikir. Oleh karenaya AI dalam IIS dibagi menjadi dua komponen keilmuan yaitu Computational Intelligence (CI) dan Data Mining.

Sistem Cerdas (Intelligence System)
Sistem Cerdas (SC) atau Intelligence System mempunyai hubungan erat dengan AI dalam konsep algoritma. Dimana perbedaan antara keduanya? Dari beberapa literatur menyebutkan bahwa perbedaan yang sangat mencolok antara SC dengan AI adalah terletak pada konsep dasarnya. AI membahas secara umum bagaimana struktur cara berfikir dan pola fikir sebuah algoritma, sedangkan untuk SC merupakan terapan dari algoritnya yang dihasilkan oleh AI. Dengan kata lain SC merujuk kepada AI dan AI merupakan induk dari SC. Berdasarkan sekema diatas dapat disimpulkan bahwa SC memiliki dua aspek keilmuan yaitu Expect System (ES) dan Decision Support System (DSS).

Sistem Informasi (Information System)
Dari pembahasan sebelumnya terntang AI dan SC yang masing-masing memiliki peran sebagai bagian terpenting dari sebuah sistem, yang tidak kalah menarik adalah Sistem Informasi (SI). Hubungan antara AI, SC dan SI memiliki komponen kompleks dalam pengembangan sebuah sistem, dari segi cara, pola, dan penerapan dalam bidang pakar maupun manajemen dapat diintegrasikan. Sistem informasi bertindak sebagai penghubung dari bergai konsep diatas dan juga sebagai pelengkap dalam penerapan dan pengembangan sistem yang didukung oleh algoritma yang dihasilkan dari AI maupun SC. Dua hal yang harus dipertimbangkan dalam SI yang akan mendukung AI dan SC dalam IIS adalah Knoledge Management System dengan benang merah Expect System, yang juga disupport oleh Management Information System yang bergerak diseputaran area Decision Support System.

Terdapat 4 dasar kategori di konsep dasar Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence), yaitu :

1. Acting Humanly
system yang melakukan pendekatan dengan menirukan tingkah laku seperti manusia yang dikenalkan pada tahun 1950. Cara kerja pengujian melalui teletype yaitu jika penguji (integrator) tidak dapat membedakan yang mengintrogasai antara manusia dan computer maka computer tersebut dikatakan lolos(menjadi kecerdasan buatan).

2. Thinking Humanly
system yang dilakukan dengan cara intropeksi yaitu penangkapan pemikiran psikologis manusia pada computer,hal ini sering diujikan dengan neuron ke neuron lainnya atau sel otak dengan sel otak lainnya. Cara pembelajarannya yaitu melalui experiment-experimen.

3. Thinking Rationaly
System ini merupakan yang sangat sulit karena sering terjadi kesalah dalam prinsip dan prakteknya. System ini dikenal dengan penalaran komputasi.

4. Acting Rationaly
System yang melakukan aksi dengan cara menciptakan suatu robotika cerdas yang menggantikan tugas manusia.

Terdapat Metodologi Soft Comupting(SC) yang dominan dalam sistem cerdas yaitu:

  • Artificial Neural Networks (ANN)
  • Fuzzy Systems
  • Genetic Algorithms (GA)

Contoh aplikasi sistem cerdas dalam bisnis yaitu:

  • Layanan Pelanggan/Customer (Pemodelan Relasi Pelanggan)
  • Penjadwalan (misal: Operasi tambang)
  • Data mining
  • Prediksi pasar keuangan (saham, dll)
  • Kendali kualitas (Quality control)

Friday, June 24, 2016

SDLC

SDLC merupakan cara dalam pekerjaan yg dilakukan analis sistem maupun programmer dalam membangun sistem informasi. Selain itu pengertian lainnya adalah model konseptual yang dipergunakan didalam manajemen proyek untuk menggambarkan langkah-langkah yang terlibat dalam proyek pengembangan SI ( sistem informasi), dari sebuah studi kelayakan awal kemudian melalui pemeliharaan aplikasi selesai.

Uraian berikut secara singkat menjelaskan masing2 tujuh fase SDLC : 

  1. Konseptual Perencanaan. Tahap ini adalah langkah awal dari setiap sistem. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mendapatkan sistem diidentifikasi selama tahap ini, kelayakan dan biaya yang dinilai, risiko dan berbagai perencanaan pendekatan didefinisikan. Peran serta juga tanggungjawab untuk Asset Manager, Perwakilan Sponsor, SDA (Sistem Agen Pembangunan), SSA (Sistem Dukungan Agen), dan pihak2 lainya dalam kebijakan SDLC yang dipilih selama tahapan ini perta diperbaharui selama siklus hidup sistem.
  2. Perencanaan dan Definisi Persyaratan. Di tahap ini di mulai setelah proyek sudah ditetapkan dan telah dilakukan sumber daya yang tepat. Bagian pertama dari fase ini akan melibatkan pengumpulan, mendefinisikan serta validasi fungsional, dukungan dan juga syarat2 pelatihan. Bagian yang kedua merupakan mengembangkan rencana awal manajemen siklus hidup, manajemen projek, Manajemen Konfigurasi (CM), perencanaan projek, dukungan, operasi, serta manajemen pelatihan.
  3. Pada tahap ini fungsional, dukungan serta persyaratan pelatihan dijabarkan kedalam desain paling awal serta yang paling lengkap/rinci. Keputusan ini dibuat untuk mengatasi bagaimana  sistem memenuhi persyaratan fungsional. Awal desain sistem, mengusahakan sebuah fitur fungsional dari sistem, diproduksi sebagai panduan-nya. Kemudian desain system akhir diproduksi yg memperluas desain dengan cara  menentukan semua detail teknis yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem.
  4. Pengembangan dan Pengujian Di tahap ini, sistem yang dikembangkan/diperoleh berdasarkan spesifikasi. Sistem ini di-validasi menggunakan/melalui urutan unit, integrasi, kinerja, sistem, serta pengujian penerimaan. Tujuannya adalah untuk memastikan agar sistem dapat berfungsi seperti yang diharapkan serta persyaratan yang mensponsori itu mendapatkan kepuasan. Semua komponen sistem, aplikasi,  prosedur, komunikasi, serta dokumentasi terkait yang eveloped atau diperoleh, diuji, serta diintegrasikan. Dalam tahap ini dibutuhkan partisipasi dari pengguna yang kuat untuk mem-verifikasi pengujian menyeluruh dari semua persyaratan untuk memenuhi kebutuhan bisnis.
  5. Implementasi Di tahap ini, sistem baru dipasang dalam lingkungan produksi, data dikonversi, pengguna dilatih, sistem di-serahkan kepada sponsor, serta proses bisnis yang di-evaluasi. Tahap ini mencakup usaha yang diperlukan untuk melaksanakan, menyelesaikan suatu masalah sistem yang di-identifikasi selama proses pelaksanaan, dan rencana untuk memelihara kelestarian.
  6. Operasi dan Pemeliharaan Di tahap ini menjadi operasional selama fase ini. Penekanan selama tahap ini untuk memastikan agar kebutuhan sponsor untuk terus di lengkapi serta sistem terus melakukan sesuai dengan spesifikasi. Secara rutin perangkat keras serta pemeliharaan perangkat lunak (software) serta upgrade (pembaruan) dilakukan agar memastikan operasi sistem dapat berjalan dengan efektif. Pelatihan untuk pengguna berlanjut selama tahap ini berlangsung sesuai kebutuhan agar mengenalkan kepada pengguna baru sistem atau fitur2 baru untuk user saat ini. Untuk dukungan user/pengguna tambahan akan disediakan, sebagai aktivitas yg sedang ber-langsung, untuk membantu dalam menyelesaikan masalah yg sedang di selesaikan.
  7. Disposisi Di tahap ini adalah akhir dari suatu siklus hidup sistem. menyediakan sebuah penghentian sistem agar untuk memastikan informasi penting yg di simpan untuk akses masa depan yg potensial. Ketika sistem ditempatkan dalam Tahap Disposisi, sudah dinyatakan surplus usang serta telah di jadwalkan untuk segera shutdown. Fase ini untuk menentukan bahwa sistem (misal, peralatan, perangkat lunak, suku cadang data, prosedur, serta dokumentasi) sesuai dengan peraturan dan juga persyaratan yang tepat.

Information Security Management System (ISMS)

ISMS adalah sebuah sistem keamanan yang melindungi berbagai informasi dalam aspek integritas, kerahasiaan, dan ketersediaannya. ISMS dapat menjaga agar pengambilan informasi yang dimiliki oleh suatu lembaga tidak disalah gunakan oleh pihak yang ingin melakukan penyalahgunaan. ISMS berguna untuk melindungi asset informasi dari gangguan keamanan.

Konsep utama ISMS untuk sebuah organisasi adalah membuat suatu rancangan kemudian mengimplementasikan rancangan tersebut serta menjaga agar suatu rangkaian proses dan sistem secara efektif dan efisien, dan juga mengelola sebuah keamanan informasi dan menjamin kerahasiaan, integritas dan ketersediaan aset-aset informasi serta untuk meminimalisir segala risiko keamanan informasi.

Standar ISO/IEC 27001:2005 merupakan sebuah proses dari mengaplikasikan kontrol manajemen keamanan dalam sebuah organisasi yang mempunyai tujuan untuk mendapatkan servis keamanan agar meminimalisir resiko aset dan memastikan kelangsungan bisnis. Servis keamanan utama yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
  1. Information Confidentiality  (Kerahasiaan Informasi)
  2. Information Integrity (Integritas Informasi)
  3. Service Availability (Ketersediaan servis)

Manajemen Keamanan Informasi ini mempunyai 3 bagian kunci dalam  menyediakan jaminan layanan keamanan informasi, diantaranya :

1. Kerahasiaan
Untuk memastikan agar sebuah informasi dapat diakses hanya untuk mereka yang mempunyai hak untuk mempunyai akses.
2. Integritas
Untuk melindungi suatu kelengkapan serta ketelitian suatu informasi  dan juga memproses metoda.
3. Ketersediaan
Memastikan bahwa para penggunanya mempunyai hak akses kedalam informasi dan berhubungan dengan aset ketika dibutuhkan.

Manfaat :
Manfaat yang akan di dapatkan dari Information Security Management System (ISMS), yaitu :

  • ISO 27001 menuntut Anda agar dapat terus meningkatkan keamanan informasi dalam perusahaan Anda. Hal ini membuat Anda dapat lebih menentukan jumlah keamanan yang tepat dibutuhkan di perusahaan anda. Sumber daya yang dihabiskan dalam jumlah yang tepat.
  • Memberikan keyakinan atau jaminan untuk klien maupun mitra dagang, bahwa perusahaan yang dikelola memiliki sebuah manajemen keamanan informasi yang baik dan sesuai dengan standar internasional. Selain itu, ISO 27001 dapat digunakan pula untuk mempromosikan perusahaan.
  • Memastikan agar organisasi memiliki kontrol dalam hal keamanan informasi terhadap lingkungan bisnis, pada prosesnya yang mungkin akan menimbulkan resiko atau gangguan.
  • Operasional organisasi atau perusahaan dapat berjalan dengan baik karena tugas, tanggung jawab serta proses bisnis terdefinisi dengan jelas.
  • Membantu organisasi dalam menjalankan sebuah perubahan-perubahan yang baik serta berkesinambungan dalam pengelolaan keamanan informasi.

Saturday, May 7, 2016

Studi Kasus Kualitas Pelayanan dan Sistem Informasi yang diterapkan pada PT Jamsostek

Studi kasus yang digunakan adalah hasil penelitian pada kantor cabang PT Jamsostek (Persero) di Semarang.Pengumpulan data yang dilaksanakan dari tanggal 1 April 2010-12 Mei 2010 dan dilakukan dengan pengiriman mail questioner ke 121 kantor cabang PT  Jamsostek (Persero) se-Indonesia dengan jumlah kuesioner yang di sebar sebanyak 1210.Analisis data yang dilakukan yaitu uji validitas dan uji reliabilitas yang kemudian disimpulkan dengan menggunakan Uji T dan nilai koefisien yang berfungsi untuk mengetahui korelasi antara suatu factor dengan factor lainnya.
Setelah dilakukan analisis data,dilakukan pengkajian dengan berpatokan pada model kesuksesan system yang dikembangkan oleh Delone dan Mclean (1992) untuk mengetahui sistem informasi yang dimiliki oleh PT Jamsostek ini. Model ini merupakan model yang sederhana namun menjadi suatu model yang dapat menjadi acuan untuk membuat sistem informasi dapat diterapkan secara sukses di organisasi. Model yang diusulkan ini dari enam pengukuran kesuksesan sistem informasi, terdiri dari :
  • Kualitas sistem (sistem quality)
  • Kualitas informasi (information quality)
  • Penggunaan (use) atau kualitas pelayanan (service quality)
  • Kepuasan pemakai (user satisfaction)
  • Dampak individual (individual impact)
  • Dampak organisasi (organization impact)
Dan ternyata di PTJamsostek ini sudah diberlakukan Sistem Informasi Pelayanan Terpadu (SIPT) Online.
Berikut ini adalah beberapa tabel hasil analisis data yang telah dilakukan 
*Tabel 1 Hasil Uji T

 *Tabel 2 Nilai Koefisien Jalur

Dari studi kasus ini bisa disimpulkan bahwa kualitas dari suatu sistem itu sangat mempengaruhi dan penting karena menyangkut pelayanan dan kepuasan yang diberikan kepada pengguna. Jika kualitas sistem dibuat sebaik mungkin maka akan semakin tinggi pula tingkat kepuasaan pengguna. Kualitas suatu sistem dapat dikatakan baik apabila mempunyai beberapa ciri ciri seperti bisa diandalkan, bisa diakses langsung dan mudah penggunaannya sehingga pengguna tidak kesulitan dan tentu lebih efektif. 
Diberlakukannya Sistem Informasi Pelayanan Terpadu (SIPT) online di PT Jamsostek, dalam perusahaan tersebut kualitas sistem infomasi menjadi lebih baik dan efisien. Dapat lihat dari hasil uji T pada kepuasaan pengguna dan kualitas sistem yang menunjukkan hasil yang meningkat signifikan pada level 99% (Tabel 1) dan nilai koefisien jalur yang berkorelasi positif pada Tabel 2. Sejak digunakannya SIPT di PT Jamsostek membuat pekerjaan menjadi lebih akurat , efiktif dan berkualitas. Sistem dibuat menjadi lebih baik sehingga pengguna dapat lebih mudah dalam menggunakannya. Pegawai di PT Jamsostek juga memberi respon positif sejak digunakannya sistem tersebut. Terjadi pengaruh yang signifikan dalam kualitas sistem serta kepuasaan pengguna.
Dilihat dari hasil uji T mengyangkut pengaruh dan dampak Sistem Informasi Pelayanan Terpadu online ini, menciptakan hasil yang signifikan di level 95% dan jalur yang berkorelasi positif. Dari hasil ini menunjukkan kepuasaan pengguna meningkat signifikan sehingga menyebabkan kepercayaan pengguna terhadap perusahaan Jamsostek menjadi lebih baik.
Kepuasaan pengguna merupakan salah satu hal penting dan utama dalam memperlihatkan kesuksesan sebuah sistem informasi yang dibuat. SIPT online dari Perusahaan Jamsostek dipengaruhi beberapa hal yaitu kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas eplayanan dan kepuasan pengguna. Dengan adanya SIPT online di PT jamsostek diharapkan dapat terus berkembang dengan menjadi lebih baik lagi sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan sistem informasi kepada pengguna. 

Friday, April 15, 2016

SIX SIGMA DAN TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)

Six Sigma


Six Sigma merupakan cara untuk mencapai kemungkinan sebuah perusahaan membuat berbagai macam produk agar menghasilkan keadaan bebas cacat atau yang disebut juga dengan Zero Defects. Selain itu proses bagaimana sebuah perusahaan untuk tidak akan membuat barang cacat pada tiap produk atau jasa yang diberikan kepada pelanggan, maka semakin sedikit cacat yang dibuat sigma levelnya akan semakin tinggi pula.

Penggunaan Six Sigma sebagai Sistem Manajemen juga dapat membantu Organisasi untuk memahami dan mendapatkan solusi berdasarkan dari akar permasalahan. Tujuannya agar apa yang sudah diimplementasikan dapat meningkatkan kinerja dari sebuah organisasi sehingga mencapai hasil yang memuaskan.

Dalam memecahkan  masalah, Six Sigma mempunyai beberapa metode yang dapat disingkat sebagai DMAIC. DMAIC yaitu Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control. Define adalah untuk membuktikan suatu masalah, Measure adalah untuk mengukur suatu masalah , Analyze adalah untuk mencari sumber atau akar dari  sebuah masalah, Improve yaitu menentukan, memprioritaskan dan mengimplementasikan solusi yang sudah dibuktikan. Sedangkan Control adalah untuk melakukan pengawasan agar solusi yang telah diterapkan dapat berjalan dengan baik dan tidak muncul permasalahan lagi.

Kelebihan Six Sigma :

  • Lebih rinci dibandingkan dengan metode analisis berdasarkan statistik.
  • Bersifat tak statis yaitu mengikuti kebutuhan pelanggan.
  • Dapat Mengurangi cacat dari sebuah produk
Kekurangan Six Sigma :

  • Memerlukan biaya yang besar jika dibandingkan metode lain serta memerlukan orang-orang yang disiplin agar dapat mengurangi cacat dari suatu produk.
  • Memerlukan waktu yang lama agar dapat meminimalisir cacat dari suatu produk


Total Quality Management



Total Quality Management (TQM) adalah merupakan suatu pendekatan untuk menjalankan usaha yang berguna agar dapat memaksimalkan daya saing sebuah organisasi dengan melakukan perbaikan terhadap produk jasa, SDM, proses dan lingkungan. Karena berdasarkan TQM, tolak ukur untuk menentukan keberhasilan usaha bertumpu pada kepuasan pelanggan atas barang jasa serta pelayanan yang diterima.

Kelebihan TQM :
  • Dapat meningkatkan kualitas pelayanan serta memotivasi pegawai
  • Dapat menyelesaikan masalah dengan cepat
  • Dapat meminimalisir biaya
Kekurangan TQM :
  • Kurang memperhatikan kualitas dari sebuah produk yang dihasilkan
  • Merupakan aktivitas yang hanya terdapat dalam departemen-departemen di perusahaan. 

Friday, April 1, 2016

Manajemen Layanan Sistem Informasi

Manajemen Layanan Sistem Informasi



Pengertian


Manajemen Layanan Sistem Informasi merupakan sebuah pengelolaan layanan sistem informasi yang lebih terpusat pada penyediaan struktur pelayanan sistem informasi dalam sebuah perusahaan dan cara mengatur serta mengelola agar suatu layanan sistem pengolah informasi dalam sebuah perusahaan dapat memberikan pelayanan yang memuaskan untuk konsumen. Dalam sebuah proses pembuatan rencana layanan system informasi juga harus dibutuhkan saling kerja sama agar tujuan dari pembuatan layanan sistem informasi dapat tercapai dan mencapai tujuan. Manajemen layanan sistem informasi nantinya dapat membantu manusia dalam bidang teknologi informasi yang akan dapat melayani segala sesuatu yang berhubungan dengan teknologi. Manajemen layanan sistem informasi tidak hanya dibutuhkan pada perusahaan yang berjalan di bidang teknologi informasi saja, namun juga pada perusahaan di bidang lain yang dapat memanfaatkan manajemen layanan sistem informasi ini.

Manfaat


Semua perusahaan yang menggunakan teknologi informasi akan bergantung pada teknologi informasi untuk menjadi sukses. Jika proses dan layanan teknologi informasi dijalankan dan didukung dalam cara yang tepat dan baik akan membantu jalannya bisnis menjadi lebih sukses. Berikut beberapa manfaat dari Manajemen Layanan Sistem Informasi :
  • Dengan Manajemen Layanan Sistem Informasi ini sebuah perusahaan dapat mengetahui apa yang dibutuhkan oleh pasar atau konsumen.
  • Dengan Manajemen Layanan Sistem Informasi juga dapat mengontrol pelayanan dari sebuah perusahaan dengan baik sehingga para konsumen dapat merasakan kepuasan dari layanan yang telah diberikan oleh perusahaan tersebut.
  • Manajemen Layanan Sistem Informasi juga dapat memberikan keefektifan dan efisiensi dalam segi waktu yang dibutuhkan yang membuat menjadi lebih cepat karena dengan manajemen layanan sistem informasi sebuah perusahaan dapat mengontrol dan memantau kinerja dari setiap sub sistem.


Peranan


Peranan Manajemen Layanan Sistem Informasi bagi lingkungan sekitar adalah sangat besar karena Manajemen Layanan Sistem Informasi ini dibuat untuk dapat memberikan kepuasan kepada konsumen terhadap layanan yang telah diberikan. Selain itu sebuah perusahaan yang menggunakan manajemen layanan sistem informasi dapat mempersingkat waktu menjadi lebih efektif dan efisien, sehingga dapat meningkatkan kepuasan layanan yang diberikan terhadap konsumen. Dan juga dapat membantu dalam pengambilan keputusan serta dapat mempermudah dalam menyelesaikan masalah yang timbul dengan tepat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa manajemen layanan sistem informasi mempunyai peranan penting karena dapat meningkatkan kinerja sebuah perusahaan serta meningkatkan kepuasaan terhadap konsumen.

Monday, October 26, 2015

Peranan Komunikasi Dalam Organisasi

Dinas Perumahan Hapus Anggaran Pembebasan Lahan, DPRD DKI Jakarta Bingung

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota DPRD DKI bingung ketika Dinas Perumahan tidak mencantumkan anggaran untuk pembebasan lahan. Alokasi itu tidak ada dalam Kebijakan Umum Anggaran Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2016.

"Ini Dinas Perumahan enggak ada pembebasan lahan, apakah nanti target pembangunan rusun tercapai?" ujar anggota Badan Anggaran (Banggar) Muhammad Sanusi di gedung DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih, Jumat (23/10/2015). 

Kepala Dinas Perumahan DKI Ika Lestari Adji mengatakan mereka memang telah mengatur ulang program prioritas mereka. Hal ini juga terkait dengan berkurangnya nilai KUA-PPAS 2016. Akhirnya, anggaran pembebasan lahan menjadi salah satu kegiatan yang dihapus. Selain itu, Dinas Perumahan DKI memang sempat kesulitan dalam melakukan pembebasan lahan. Anggaran lain yang masih dipertahankan Dinas Perumahan DKI adalah kegiatan pembangunan dan perawatan rusun. Ika mengatakan, jika anggota Banggar menganggap kegiatan pembebasan lahan masih diperlukan, maka bisa kembali dimasukan.

"Berkaitan dengan pembebasan lahan kami memang disampaikan tiga pilihan yang sangat dilematis," kata dia.

Tiga pilihan itu adalah pembangunan rusun, pembebasan lahan, dan pemeliharaan. Namun akhirnya diambil dua pilihan yaitu pembangunan dan pemeliharaan. Untuk itu Sanusi berpesan kepada Ika agar segera berkomunikasi kembali dalam rapat Banggar ketika anggaran tersebut dirasa perlu dibuat. 

"Kalau dirasa ada pembebasan lahan yang memungkinkan, segera disampaikan ke banggar ya bu," ujar Sanusi.

Sumber

Pada berita diatas dapat disimpulkan bahwa permasalahan terjadi karena kurangnya komunikasi antara Dinas Perumahan DKI dengan DPRD DKI Jakarta mengenai anggaran pembebasan lahan yang tidak ada dalam Kebijakan Umum Anggaran Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2016, mengakibatkan kebingungan dalam pihak DPRD DKI.

Solusi mengatasi kasus ini adalah sesuai dengan yang dikatakan oleh Sanusi selaku anggota Badan Anggaran (Banggar) yaitu segera melakukan komunikasi antara kedua belah pihak untuk menentukan apakah diperlukan anggaran pembebasan lahan tersebut.



Saturday, October 17, 2015

TUGAS TOU

Nama Kelompok:
  1. Achmad Faisal (10114108)
  2. Dias Aditya (13114025)
  3. Reza Yulianto (19114196)
  4. Tia Annisa (1A114741)


Nama Mata Kuliah: Teori Organisasi Umum 2#
Materi: 
*PERTEMUAN 1/2
-Pengertian dan Arti Penting Komunikasi
-Jenis dan Proses Komunikasi
-Komunikasi Efektif
-Implikasi Manajerial

*PERTEMUAN 3/4
-Pengertian dan karakteristik kelompok
-Tahapan Pembentukan Kelompok
-Kekuatan Team Work
-Implikasi Manajerial

PERTEMUAN 1/2

Pengertian Komunikasi dan Arti Penting Komunikasi

Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”), secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis. Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain. Komunikasi akan dapat berhasil apabila sekiranya timbul saling pengertian, yaitu jika kedua belah pihak, si pengirim dan penerima informasi dapat memahaminya. Hal ini tidak  berarti  bahwa kedua belah pihak harus menyetujui sesuatu gagasan tersebut, tetapi yang penting adalah kedua belah pihak sama-sama memahami gagasan tersebut. Dalam keadaan seperti inilah baru dapat dikatakan komunikasi telah berhasil baik (komunikatif).

Komunikasi Menurut Para Ahli (Tokoh)                   
                                
Masing-masing para ahli mengeluarkan definisi sendiri-sendiri tentang komunikasi. Akan tetapi definisi para ahli terdapat kesamaan tentang apa itu komunikasi yaitu “penyampaian dan penerimaan informasi”. Komunikasi menurut para ahli: 

  1. Himstreet & Baty Komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol, sinyak-sinyal, maupun perilaku atau tindakan. 
  2. Laswell Komunikasi adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakn apa dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa. 
  3. Car I.Hovland Komunikasi adalah proses dimana seseorang individu atau komunikator mengoperkan stimulan biasanya dengan lambang-lambang bahasa (verbal maupun non verbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain. 
  4. William Albig Komunikasi adalah proses sosial, dalam arti pelemparan pesan/lambang yang mana mau tidak mau akan menumbuhkan pengaruh pada semua proses dan berakibat pada bentuk perilaku manusia dan adat kebiasaan. 
  5. A. Winnet Komunikasi merupakan proses pengalihan suatu maksud dari sumber kepada penerima, proses tersebut merupakan suatu seri aktivitas, rangkaian atau tahap-tahap yang memudahkan peralihan maksud tersebut. 
  6. Everett M. Rogers Seorang pakar sosiologi Pedesaan Amerika membuat definisi “Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi terhadap satu sama lain yang pada gilirannya akan tiba saling pengertian” 
  7. Raymond Ross Komunikasi adalah proses menyortir, memilih, dan pengiriman simbol-simbol sedemikian rupa agar membantu pendengar membangkitkan respons/ makna dari pemikiran yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh komunikator.


Jenis-jenis Komunikasi :

  1. Komunikasi Intrapribadi, yaitu komunikasi intrapribadi (intrapersonal communication) adalah komunikasi dengan diri sendiri, baik kita sadari atau tidak. Misalnya berpikir.
  2. Komunikasi Antarpribadi, yaitu komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan respon verbal maupun nonverbal berlangsung secara langsung.
  3. Komunikasi Kelompok (Kecil), yaitu komunikasi kelompok merujuk pada komunikasi yang dilakukan sekelompok kecil orang (small-group communication).
  4. Komunikasi Publik, yaitu komunikasi publik adalah komunikasi antara seorang pembicara dengan sejumlah orang (khalayak), yang tidak bisa dikenali satu persatu. Meliputi ceramah, pidato, kuliah, tabligh akbar, dan lain-lain. Ciri-ciri komunikasi publik adalah berlangsung lebih formal.
  5. Komunikasi Organisasi, yaitu komunikasi organisasi (organizational communication) terjadi dalam suatu organisasi, bersifat formal dan informal, dan berlangsung dalam jaringan yang lebih besar dari komunikasi kelompok.
  6. Komunikasi Massa, yaitu komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi yang menggunakan media massa cetak maupun elektronik yang dikelola sebuah lembaga atau orang yang dilembagakan yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar, anonim, dan heterogen. Pesan- pesannya bersifat umum, disampaikan secara serentak, cepat dan selintas.

Proses Komunikasi

Para ahli bahwa komunikasi yang efektif adalah pemahaman bersama antara orang yang menyampaikan pesan dan orang yang menerima pesan. Kata komunikasi berasal dari bahasa latin communis yang artinya “bersama”. Komunikator atau pengirim pesan, berusaha mencari “kebersamaan” dengan si penerima pesan. Karena itu, dapat didefinisikan komunikasi (communication) sebagai transisi informasi dan pemahaman melalui symbol-simbol bersama dari satu orang atau kelompok ke pihak lainnya. Simbol-simbol bersama yang digunakan dapat berwujud verbal ataupun nonverbal. Dalam konteks struktur organisasi, informasi dapat bergerak ke atas ataupun ke bawah (vertikal), bergerak melintang (horizontal), atau bergerak ke bawah dan melintang secara bersamaan (diagonal).

Model proses komunikasi kontemporer yang paling banyak digunakan dikembangkan oleh Shannon, Weaver, dan Schramm. Para peneliti ini berusaha mendeskripsikan proses umum komunikasi yang dapat digunakan untuk setiap situasi. Elemen-elemen dasar yang membentuk komunikasi mencangkup komunikator, pengkodean, pesan, media perantara, pengurai, penerima pesan, umpan balik dan suara derau.


Secara singkat, beberapa macam proses komunikasi sebagai berikut :
  1. Lingkup organisasi. Menurut lingkupnya dalam organisasi, komunikasi dapat dibedakan antara komunikasi intern dan komunikasi ekstern. Komunikasi intern adalah komunikasi yang ada atau berlangsung didalam sebuah organisasi. Komunikasi ekstern adalah komunikasi yang terjadi atau berlangsung antara suatu organisasi dengan pihak luar atau dengan bagian-bagian organisasi lain.
  2. Arah. Dari sudut arahnya,komunikasi dapat dibedakan antara komunikasi searah dan komunikasi dan komunikasi dua arah. Komunikasi searah adalah komunikasi yang ditandai oleh adanya satu pihak yang aktif, yaitu penyampaian informasi; sedangkan pihak lainnya bersifat pasif dan menerima. Biasanya komunikasi atasan kepada bawahan, seperti instruksi yang harus dikerjakan dan semacamnya adalah komuniasi searah. Komunikasi dua arah adalah komunikasi yang ditandai oleh peran aktif kedua pihak yang sama-sama sebagai pemberi dan penerima informasi. Pertukaran pikiran dan pendapat dalam rapat atau diskusi adalah contoh komunikasi dua arah
  3. Tingkatan Organisasi. Di dalam struktur organisasi dikenal adanya tingkat-tingkat, dan karenanya juga akan ikut menentukan corak komunikasi yang berlangsung didalamnya. Berdasarkan tingkatan organisasi, komunikasi dapat dibedakan menjadi komunikasi vertical dan komunikasi horizontal. Komunikasi vertical adalah komunikasi yang berlangsung antara bawahan dengan atasan didalam hirarki organisasi. Komunikasi vertical dapat berupa pemberian usulan, laporan, masukan, dan memohon petunjuk. Komunikasi horizontal adalah komunikasi yang berlangsung di antara para pejabat yang sederajat. Komunikasi horizontal dapat berupa perintah, arahan, dan petunjuk, 
  4. Sifat Formal dan Informal. Dari segi sifatnya, komunikasi dalam organisasi dapat berupa komunikasi formal dan informal. Komunikasi formal adalah komunikasi yang melalui jalur atau saluran organisasi dan berkenaan dengan urusan-urusan organisasi yang resmi. Komunikasi informal adalah komunikasi yang berlangsung tidak melalui saluran organisasi yang resmi atau menyangkut urusan-urusan diluar organisasi.
  5. Pola Komunikasi Kelompok. Beberapa pandangan para ahli bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara pola komunikasi dengan perilaku dalam kelompok.

Media. Dari segi media atau alat yang digunakan untuk mentransfer pesan, dikenal dengan adanya komunikasi visual, audial, audio-visual. Komunikasi visual adalah komunikasi yang menggunakan alat tertentu untuk mengirim pesan yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan(mata). Komunikasi audial adalah komunikasi yang menggunakan alat tertentu yang pesannya ditangkap oleh pendengaran(telinga).Komunikasi audial contohnya adalah: radio, telephone, kuliah dll. Dan komunikasi audio-visual adalah komunikasi yang menggunakan alat tertentu yang pesannya ditangkap oleh penglihatan dan pendengaran secara bersamaan. Contoh komunikasi audio-visual termasuk didalamnya : video,film, lase disc,dsb.


Cara penyampaiannya: verbal – nonverbal. Dari segi cara menyampaikan pesan dapat dibedakan antara komunikasi verbal dan non-verbal. 


Komunikasi verbal adalah komunikasi yang pesan-pesannya disampaikan dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti oleh kebanyakan orang, baik melalui media tulis maupun lisan. Penyiar televisI dan radio atau penulis brita dikoran yang pesannya dapat dengan mudah kita tangkap makna pesannya disebut melakukan komunikasi verbal pada hakekatnya lebih mudah dimengerti. 


Komunikasi non-verbal disebut juga dengan komunikasi tanpa kata, adalah komunikasi yang pesan-pesannya disampaikan melalui symbol-simbol, isyarat, atau perilaku tertentu yang bukan dengan kata-kata. Biasanya komunikasi seperti ini dipahami oleh kalangan yang terbatas, tergantung dari pengalaman, pendidikan, latar belakang budaya dan adat istiadat, dsb. Misalnya, atasan yang marah pada bawahan karena tidak puas dengan hasil kerjanya menulis disposisi dengan tinta merah, orang yang berdiam diri diluar kebiasaan untuk mengkomunikasikan kesedihan, dsb adalah bentuk-bentuk komunikasi non-verbal. Karenanya, bentuk komunikasi ini pada tahap-tahap awalnya sukar dimengerti.

Komunikasi yang Efektif

Pengertian Komunikasi Efektif Menurut Para Ahli yang ambil dari berbagai sumber:
Berkomunikasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan. Oleh karena itu, dalam bahasa asing orang menyebutnya “the communication is in tune”, yaitu kedua belah pihak yang berkomunikasi sama-sama mengerti apa pesan yang disampaikan.
Menurut Jalaluddin dalam bukunya Psikologi Komunikasi menyebutkan, komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tindakan. 


Syarat-syarat untuk berkomunikasi secara efektif adalah antara lain :
  1. Menciptakan suasana yang menguntungkan.
  2. Menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti.
  3. Pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat di pihak komunikan.
  4. Pesan dapat menggugah kepentingan dipihak komunikan yang dapat menguntungkannya.
  5. Pesan dapat menumbuhkan sesuatu penghargaan atau reward di pihak komunikan.
Prinsip Dasar Komunikasi Efektif

  1. Respect (Respek) adalah Perasaan Positif atau penghormatan diri kepada lawan bicara.
  2. Empathy (Empati) adalah kemampuan untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang tengah dihadapi orang lain. Anda mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, sehingga komunikasi akan terjalin dengan baik sesuai dengan kondisi psikologis lawan bicara Anda.
  3. Audible (Dapat Didengar) Audible mengandung makna pesan yang harus dapat didengarkan dan dimengerti. Dalam hal ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu : Pertama, pesan harus mudah dipahami, menggunakan bahasa yang baik dan benar. Hindari bahasa yang tidak dipahami oleh lawan bicara. Kedua, sampaikan yang penting. Sederhanakan pesan Anda. Langsung saja pada inti persoalan. Ketiga, gunakan bahasa tubuh Anda. Mimik wajah, kontak mata, gerakan tangan dan posisi badan bisa dengan mudah terbaca oleh lawan bicara Anda. Tunjukkan kesejatian Anda dengan mengoptimalkan bahasa tubuh dan pesan. Keempat, gunakan ilustrasi atau contoh. Karena analogi sangat membantu dalam penyampaian pesan.
  4. Clarity (Jelas) adalah kejelasan dari pesan yang kita sampaikan. Salah satu penyebab munculnya salah paham antara satu orang dengan yang lain adalah informasi yang tidak jelas yang mereka terima.
  5. Humble (Rendah Hati) Sikap Rendah Hati bukan berarti Anda Rendah Diri, Rendah Hati memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara terlebih dahulu, dan Anda menjadi pendengar yang baik.

Implikasi Manajerial

Dalam kamus besar bahasa Indonesia implikasi mempunya arti yaitu akibat.kata implikasi sendiri dapat merujuk ke beberapa aspek salah satu aspek yang akan saya bahas kali ini implikasi manajerial. Dalam manajemen sendiri terdapat 2 implikasi yaitu :


  1. Implikasi prosedural meliputi tata cara analisis, pilihan representasi, perencanaan kerja dan formulasi kebijakan Implikasi kebijakan meliputi sifat substantif, perkiraan ke depan dan perumusan tindakan.
  2. Implikasi kebijakan meliputi sifat substantif, perkiraan ke depan dan perumusan tindakan. 
Jadi implikasi manajerial memiliki arti Proses Pengambilan Keputusan Partisipatif Dalam Organisasi manajerial yang baik.

Daftar Pustaka : 
Greenberg, Jerald, Managing Behavior in Organization, Prentice hall, New Jersey, 2005
John M Ivancevich, Perilaku dan Manajemen Organisasi jil 2. Erlangga: Jakarta, 2005
Komang Ardana, Ni wayan M, Anak Agung A.S, Perilaku Keorganisasian, Graha Ilmu, 2008
Ig. Wursanto, Dasar – dasar ilmu Organisasi, Andi, Yogyakarta, 2005




PERTEMUAN 3/4 


Pengertian dan Karakteristik Kelompok

Pengertian Kelompok Menurut Beberapa Ahli :

  1. Menurut Homans (1950) : kelompok adalah sejumlah individu berkomunikasi satu dengan yang lain dalam jangka waktu tertentu yang jumlahnya tidak terlalu banyak, sehingga tiap orang dapat berkomunikasi dengan semua anggota secara langsung.
  2. Menurut Merton, kelompok merupakan sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan, sedangkan kolektiva merupakan orang yang mempunyai rasa solidaritas karena berbagai niai bersama dan yang telah memiliki rasa kewajiban moral untuk menjalankan harapan peran.
  3. Menurut Achmad S. Ruky, Kelompok adalah sejumlah orang yang berhubungan (berinteraksi) antara satu dan yang lainnya, yang secara psikologis sadar akan kehadiran yang lain dan yang menganggap diri mereka sebagai suatu kelompok.

Karakteristik Kelompok

Ada dua karakteristik yang melekat pada suatu kelompok, yaitu norma dan peran. Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tentang norma. Norma adalah persetujuan atau perjanjian tentang bagaimana orang-orang dalam suatu kelompok berperilaku satu dengan lainnya. Ada tiga kategori norma kelompok, yaitu norma sosial, prosedural dan tugas. Norma sosial mengatur hubungan di antara para nggota kelompok. Sedangkan norma prosedural menguraikan dengan lebih rinci bagaimana kelompok harus beroperasi, seperti bagaimana suatu kelompok harus membuat keputusan.


Beberapa ahli mengatakan bahwa dalam suatu kelompok terdapat ciri – ciri, yaitu :
  1. Terdiri dari 2 orang atau lebih 
  2. Adanya interaksi yang terus menerus
  3. Adanya pengembangan identitas kelompok
  4. Adanya norma – norma kelompok
  5. Adanya diferensiasi peran
  6. Peran yang saling tergantung
  7. Produktivitas bertambah atau meningkat
  8. Saling membagi tujuan yang sama


Tahap - Tahap Pembentukan Kelompok
Model pembentukan suatu kelompok pertama kali diajukan oleh Bruce Tackman (1965). Teori ini dikenal sebagai salah satu teori pembentukan kelompok yang terbaik dan menghasilkan banyak ide-ide lain setelah kosep ini dicetuskan.

Tahap 1 - Forming
Pada tahap ini kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok cenderung untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka belum saling mengenal dan belum saling percaya.

Tahap 2 - Storming
Kelompok mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas-tugas yang mereka hadapi. Mereka membahas isu-isu semacam masalah yang harus mereka selesaikan. Anggota kelompok saling terbuka dan mengkonfrontasi ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Pada beberapa kasus, tahap storming cepat selesai. Namun ada pula yang mandenk pada tahap ini.

Tahap 3 - Norming
Terdapat kesepakatan dan konsensus antara anggota kelompok. Peranan dan tanggung jawab telah jelas. Anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat kontribusi masing-masing anggota untuk kelompok.

Tahap 4 - Performing
Kelompok dalam tahap ini dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota kelompok saling bergantung satu sama lainnya dan mereka saling respect dalam berkomunikasi.

Tahap 5 - Adjourning dan Transforming
Tahap dimana proyek berakhir dan kelompok membubarkan diri. Kelompok bisa saja kembali pada tahap mana pun ketika mereka mengalami perubahan.

Kekuatan Team Work

Teamwork atau kerja sama tim merupakan bentuk kerja kelompok yang bertujuan untuk mencapai target yang sudah disepakati sebelumnya. Harus disadari bahwa teamwork merupakan peleburan berbagai pribadi yang menjadi satu pribadi untuk mencpai tujuan bersama. Tujuan tersebut bukanlah tujuan pribadi, bukan tujuan ketua tim, bukan pula tujuan dari pribadi paling populer di tim.


Dalam sebuah tim yang dibutuhkan adalah kemauan untuk saling bergandeng-tangan menyelesaikan pekerjaan. Bisa jadi satu orang tidak menyelesaikan pekerjaan atau tidak ahli dalam pekerjaan A, namun dapat dikerjakan oleh anggota tim lainnya. Inilah yang dimaksudkan dengan kerja tim, beban dibagi untuk satu tujuan bersama.


Saling mengerti dan mendukung satu sama lain merupakan kunci kesuksesan dari teamwork. Jangan pernah mengabaikan pengertian dan dukungan ini. Meskipun terjadi perselisihan antar pribadi, namun dalam tim harus segera menyingkirkannya terlebih dahulu. Bila tidak kehidupan dalam tim jelas akan terganggu. Bahkan dalam satu tim bisa jadi berasal dari latar belakang divisi yang berbeda yang terkadang menyimpan pula perselisihan. Makanya sangat penting untuk menyadari bahwa kebersamaan sebagai anggota tim di atas segalanya.

Berikut tugas dan tanggung jawab dalam tim :
  1. Mewujudkan tujuan dan misi tim
  2. Memelihara kebersamaan dalam tim
  3. Mematuhi dan melaksanakan ketentuan atau norma yang berlaku dalam tim
  4. Merealisasikan tugas dan pekerjannya dengan sebaik-baiknya
  5. Menjaga nama baik dan kerahasiaan tim
  6. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan pekerjaan tim
  7. Memberikan kontribusi yang nyata memajukan kerjasama tim
  8. Ikut berpasrtisipasi dalam pengambilan keputusan tim dengan penuh keiklasan dan rasa tanggung jawab

Fungsi bekerja sama tim

Bekerja dalam tim mempunyai banyak fungsi dan manfaat. Fungsi bekerja sama dalam tim antara lain dapat mengubah sikap, perilaku dan nilai-nilai pribadi serta dapat turut serta dalam mendisiplinkan anggota lainnya. Anggota tim yang menyimpang dapat sditekan dan diluruskan dengan kewajiban untuk mematuhi dan melaksanakan aturan atau norma yang berlaku dalam tim. Selain itu tim dapat digunakan untuk pengambilan keputusan, merundingkan serta bernegosiasi. Anggota tim dengan latar belakang yang berbeda-beda mungkin saja membawa perspektif atau pengaruh positif terhadap proses pengambilan keputusan. Cara kerja tim menghendaki adanya komunikasi terbuka diantara semua anggota, interaksi antar anggota tim yang efektif akan mempengaruhi dinamika kerja tim, sebagai contoh, anggota yang berpartisipasi dalam penyusunan rencana akan terikat oleh upaya pencapaian tujuan. Pemahaman tentang tim merupakan hal yang penting untuk dapat melaksanakan semua fungsi manajemen terutama kepemimpinan, sebab sebuah tim adalah refleksi dari kenyataan hidup kelompok orang yang terorganisasi.


Tim tidak hanya penting dan bermanfaat bagi organisasinya saja, tetapi juga memberi manfaat bagi individu para anggotanya. Tim dapat menyediakan kepuasan sosial bagi para anggotanya maka perasaan pemilikasn dan dukungan terhadap tim akan berkurang, manfaat lain dari tim adalah meningkatkan komunikasi interpersonal diantara para anggotanya.


Secara lebih rinci manfaat bekerjasama dalam tim adalah sebagai berikut :

Manfaat bagi organisasi :
  1. Meningkatkan produktivitas kerja
  2. Meningkatakan kualitas kerja
  3. Meningkatkan mentalitas kerja
  4. Meningkatkan kemajuan organisasi
Manfaat bagi anggota :


  1. Stress atau beban kerja akibat pekerjaan akan berkurang
  2. Tanggung jawab atas pekerjaan dipikul bersama
  3. Memperoleh balas jasa dan penghargaan
  4. Sebagai media aktualisasi diri
  5. Dapat menyalurkan bakat dan kemampuan

Implikasi Manajerial

Implikasi dalam bahasa indonesia adalah keterlibatan manusia dalam melakukan sesuatu, jadi dalam kasus ini Implikasi manajerial team work adalah keterlibatan manusia dalam kerja tim untuk saling membantu rekan satu kelompoknya karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa mengerjakan sesuatu sendiri, sudah ada keahlian masing-masing manusia untuk saling melengkapi , begitu juga dalam manajerial, di butuhkan untuk adanya team work untuk melengkapi satu sama lain dalam mengontrol suatu masalah lebih utama dalam Implikasi Manajerial. Implikasi Manajerial dengan cara meningkatkan kapasitas, kualitas, efisiensi dan efektivitas dari sumber daya yang ada. apa implikasi manajerial yang muncul dari organisasi tanpa pembatas. Para manajer memilih pendekatan ini dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas di pasar global yang kompetitif. Jadi struktur organisasi manajerial tidak akan berpusat pada satu organisasi manajerial namun harus mencakup seluruh struktur organisasi manajerial di seluruh negara.




Daftar Pustaka : Jawwad, Abdul (2006). Manajemen Team Work. Jakarta : PT. Syaamil Cipta Media.